Hidup
Masih sering dibuat takjub dengan tingkah manusia yang bermacam-macam. Segala tingkah aneh yang ingin di mengerti tapi buat di terima logika aja susah minta ampun. Terutama generasi milenial saat ini. Ya aku juga. Generasi haus akan pengakuan.
Sebenarnya aku cuma mau cerita tentang keresahan aku. Udah lama aku diam, bukannya hilang malah makin nambah. Manusia adalah makhluk yang paling bisa berargumen, paling judge-mental. Apapun yang terlihat didepan mata langsung di komentari. Jujur aku juga gitu. Pas lagi ngaca, bukan main mengomentari kekurangan diri sendiri. Ngeliat orang-orang yang punya proporsi wajah ideal rasanya envy banget. Alhasil aku jadi manusia yang tidak menghargai diri sendiri dan jatohnya tidak bersyukur.
Di sekitar kita banyak banget orang yang minta dikatain padahal kita tau dosa kalo ngatain (tapi gimana minta dikatain). Memang aku bukan orang yang agamis, tapi aku tau baik buruk dan masih mau cari tau. Kadang risih mendengar orang lain mengomentari apapun yang dilihatnya didepan mata. Jujur mulut aku kadang nimbrung mengiyakan. Tapi setelah itu malah nyesal ngatain. Selesai sama kesalahan fisiknya, lanjut nyari-nyari kesalahan hidupnya. Lama kelamaan aku bosan. Bosan harus mengomentari apa apa yang terlihat. Paling tidak ngerem mulut aja untuk tidak memberi penilaian apapun.
Menjadi manusia dengan hidup yang baik itu ternyata gampang, salah satunya berhenti melihat kekurangan yang ada pada diri sendiri dan orang lain. Pemberian Tuhan. Kenapa aku protes? Menghina pemberian Tuhan? Ngaca sekarang hanya sekedar ngaca tanpa mengukur proporsi wajah lagi.
Sekarang aktifitas manusia hampir ga ada privasi, buka instastory saja langsung terpampang nyata semuanya. Kita kalo ngeliat ada orang yang ngepost sesuatu, mikir nya "enak banget sih bisa gitu" dan langsung cari kekurangannya tanpa tau betapa keras usaha dia mendapatkan hal itu, berapa banyak malam yang dia lalui tanpa tidur demi itu, berapa banyak rintangan untuk meraih itu. Iya kita tau hasilnya aja, melihat lalu langsung nge-judge. Alhasil kita tidak pernah bisa menghargai orang lain padahal manusia itu selalunya ingin dihargai. Tapi orang yang tidak menghargai diri sendiri ternyata juga tidak menghargai orang lain.
Selama berteman, pernah ga sih mikir "aku udah nge-treat teman beda agama dengan bener belum ya?" "aku udah nge-treat teman aku yang baper dengan benar belum ya?" "selama berteman aku pernah ga ya menyinggung dia dengan perkataanku?"
Pertanyaan itu semua untuk mengukur sejauh apa kita udah menghargai orang lain. Coba kalo kita yang ditanya begitu, boong kalo ga ngerasa betapa dia menghargai kita.
Demi apa I don't want to be that person who can't see the good side in others, who will always complain about everything what people did, but the realize she hasn't done anything yet.
Manusia, mulailah menghargai orang lain. Tentunya dimulai menghargai diri sendiri. Aku berhenti melihat kukurangan sebagai kekurangan. I don't hide it. I embrace it. Aku berhenti melihat kegagalan sebagai kegagalan. Aku jadikan pengalaman, kujadikan ia guru terbaik yang termahal. Kita tidak akan tumbuh jika hidup di zona nyaman.
Kita memandang hidup dari banyak sudut. Aku sendiri memandang hidup ini sebagai tempat mencari pengalaman, mencari inspirasi, berbagi cerita dengan orang lain, bukan hanya tempat menyuapi ego yang tidak berujung.

Komentar
Posting Komentar